Yatim Pergi Meninggalkan Hutan Adat
Yatim Pergi Meninggalkan Hutan Adat

Yatim mengajak masyarakat Sakai keluar hutan. Memperjuangkan ruang kelola yang dihancurkan korporasi. Meninggal sebelum dapat pengakuan pemerintah.

Oleh Veri Syardianta

Medio September tahun lalu, Muhammad Yatim hanya bisa baring di atas tempat tidur. Badannya demam tinggi dan tak berdaya. Tetangga dan kerabat jauh silih berganti menjenguk. Keluarga semakin risau melihat kondisinya. Belum sampai penghujung September, Yatim tutup usia.

Yatim, Bathin Sobanga, salah satu pimpinan adat Suku Sakai. Dijuluki Bathin Io Bangso. Lahir di Duri, Bengkalis, 1938. Meninggalkan istri Hj. Yusliani Wati  dan empat orang anak: Yulius Nur Yatim, Muhammad Bomban Buana, M. Arjuna Bomban Buana dan M. Anton Bomban Buana.

Yatim, bagian dari Bathin Delapan. Meliputi Batin Paoh, Batin Batuah, Batin Singa Meraja, Batin Berumbang, Batin Semunai, Batin Beramban dan Batin Pinggir. Ada lagi, Batin Lima. Meliputi Batin Minas, Batin Belutu, Batin Beringin, Batin Penaso dan Batin Tangganau.

Muhammad Yatim merupakan pimpinan adat Suku Sakai dan dijuluki Bathin Io Bangso

Masyarakat Sakai tersebar di dua kabupaten. Siak di Kecamatan Kandis dan Bengkalis di Kecamatan Pinggir, Mandau, Talang Muandau serta Bathin Solapan. Sebagian besar bertani dan berladang. Selain menjadikan sungai sebagai sumber kehidupan, masyarakat Sakai juga bergantung pada hutan yang dianggap sebagai apotek: sumber obat-obatan.

“Dahulu masyarakat Sakai hidup di hutan, buat rumah, berkebun pindah-pindah dari hutan ke hutan hanya untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada, tanpa memikirkan tentang legalitas ruang kelola,” kata Datuk Muhammad Nasir.

Ancaman kehidupan Sakai dimulai sejak penambangan minyak bumi oleh Caltex pada 1957, yang kemudian berganti nama jadi Chevron. Kondisinya semakin diperparah setelah terbit izin Hutan Tanaman Industri  (HTI) PT Arara Abadi, mulai 1996. Hutan alam di tebang secara besar-besaran.

Oleh sebab itu, sejak 1983, Yatim lantang memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Sakai. Membela nasib anak kemenakan supaya tetap memiliki tempat untuk dihuni. Memperjuangkan Desa Kesumbo Ampai sebagai ruang kelola masyarakat.

Nasir, masuk ke hutan-hutan menemui kelompok masyarakat Sakai yang tersebar di pedalaman Bengkalis hingga Siak. Mengajak mereka keluar melihat dunia yang tidak lagi memandang keberadaan orang Sakai. Dari situ, masyarakat bersatu memperjuangkan hak-hak mereka.

Selama 30 tahun, pula Yatim menginisiasi gerakan menjaga hutan alam. Termasuk memperjuangkan hutan adat Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Bathin Solapan, seluas 207 hektare. Usulan ini sudah sampai di tangan Gubernur Riau. Menunggu keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

M Yatim memperjuangkan hutan adat Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Bathin Solapan dan telah menyerahkan usulan ke Gubernur Syamsuar

“Dengan diperluasnya ruang kelola masyarakat, melalui skema hutan adat, semoga orang Sakai dapat memiliki ruang hidup lebih baik,” ungkap Nasir.

Sebelum meninggal, Yatim telah meneruskan pimpinan Bathin Sobanga ke kemenakannya, Nasir. Meski tak ada kekosongan pimpinan adat, sampai saat ini, seluruh masyarakat Sakai masih merasa kehilangan sosok tokoh yang bijaksana, gigih dan pelopor bangkitnya budaya maupun tradisi Sakai.

“Sosok haji Muhammad Yatim takkan ada yang bisa menggantikan. Beliau sangat bijaksana dalam mengambil keputusan dan tidak pernah buru-buru. Dia selalu paling depan membela hak-hak masyarakat Sakai,” kenang Nasir.

Sepanjang hidupnya, Yatim merupakan tempat berkeluh kesah dan mengadu atas permasalahan yang menimpa masyarakat Sakai. Terlebih, masyarakat Sakai sering dicirikan sebagai kelompok terasing.

Sepanjang hidupnya, Yatim merupakan tempat berkeluh kesah dan mengadu atas permasalahan yang menimpa masyarakat Sakai.

Nasir masih ingat satu ucapan Yatim yang disampaikan pada masyarakat Sakai. Bahwa, perjuangan mereka ibarat membangkitkan batang tebonam. Perjuangan itu, kini diteruskan oleh tokoh-tokoh Sakai Bathin Sebonga.

“Saya berharap, SK Hutan Adat Kesumbo Ampai diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Desa ini. Itu karya almarhum haji Muhammad Yatim,” pinta Nasir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *