Syamsibar Ingin Masyarakat Bonai Tak Kelaparan
Syamsibar Ingin Masyarakat Bonai Tak Kelaparan

Seorang Datuk Majopati berjuang menjamin kesetaraan ekonomi dan kebangkitan marwah.Tidak gengsi berunjukrasa dan aktif melobi pejabat. Meninggal ketika belum sempat menyaksikan anak kemenakan sejahtera seutuhnya.

Oleh Arpiyan Sargita

Bagi masyarakat Suku Bonai, Datuk Majopati Syamsibar adalah panutan dan tempat mengadu. Satu hari, Ketua Pemuda Adat, Kafrizal, mengenang anak kemenakan Bonai berbondong-bondong ke rumah Syamsibar. Mereka minta pendapat ihwal rencana demonstrasi ke DPRD Riau, menyoal jalan desa yang semakin tidak layak dilalui.

Singkat cerita, Syamsibar merespon keinginan tersebut dengan menyiapkan empat mobil tronton. Dia pun ikut bersama rombongan, demi kebaikan dan kemajuan Bonai. Unjuk rasa hari itu, berjalan lancar.

Di DPRD Riau, massa disambut dan diajak diskusi oleh pimpinan dan anggota dewan. Mereka hanya menuntut perbaikan jalan. Itu, membuat masyarakat Bonai menderita. Kala hujan banjir, waktu panas berdebu.

Syamsibar aktif membangun komunikasi dengan pemerintah demi memperjuangkan hak-hak masyarakat Bonai

“Kami tidak minta beras. Tapi minta tolong perbaiki jalan kami. Biar kami kelaparan tapi jalan kami bagus,” kata Kafrizal, mengenang tuntutan Datuk Majopati di tengah-tengah anggota legislatif daerah.

Tidak hanya berunjuk rasa, Syamsibar juga aktif menemui pejabat di kabupaten hingga provinsi, untuk mempercepat pembangunan jalan di Bonai. Perjuangan itu, memakan waktu dua tahun. Meski tidak semulus yang diharapkan, setidaknya masyarakat Bonai dapat mengeluarkan hasil pertanian dari desa.

Syamsibar lahir di Sontang, 9 September 1963. Diangkat sebagai Datuk Majopati saat usia 32 tahun, hasil musyawarah mufakat keluarga. Dia, merupakan pimpinan tertinggi di Suku Bonai dan memang diharapkan mampu membawa perubahan.

Masyarakat Bonai hidup di Desa Bonai, Kecamatan Bonai Darusalam, Kabupaten Rokan Hulu. Keseharian mereka mencari ikan di Sungai Rokan Kanan, menggunakan siapang atau tombak mata tiga, kayo, lukah dan jaring. Di darat, mereka berburu, meramu hasil hutan dan berladang pindah-pindah.

Syamsibar mendorong untuk memetakan lahan untuk peladangan masyarakat yang belum dijamah korporasi.

Wilayah Bonai memiliki kekayaan alam berlimpah: minyak bumi, hasil hutan, sungai dan danau. Namun, mereka hidup dalam kemsikinan. Gelap gulita malam hari, jalan rusak dan berdebu, hingga anak-anak Bonai tidak mampu sekolah.

Semakin parah, ketika masuknya korporasi yang menghancurkan hutan. Mereka terusir dari tanah sendiri. Ladang padi berubah jadi akasia, sawit dan terhalang oleh pipa minyak.

“Kalau kita tidak melawan, tanah kita akan habis dipetak-petak oleh negara dan diberikan ke korporasi. Kita hanya bisa melihat minyak Chevron mengalir, mobil membawa kayu dan buah sawit di depan rumah. Kita hanya dapat abu,” kata Kafrizal, mengingat umpatan semangat Syamsibar.

Kondisi itu, menggerakkan Syamsibar untuk memangil ninik mamak tigo suku; Melayu, Domo dan Meliling. Mereka, sepakat terlebih dahulu memetakan ladang Masyarakat Bonai yang belum dijamah perusahaan. Setelah itu, pertemuan besar pun diselenggarakan untuk dapatkan dukungan seluruh masyarakat Bonai.

Ada 11 ribu ha bekas ladang berpindah Masyarakat Bonai yang terhampar di Desa Bonai, Putat dan Siarang-arang. Areal tersebut diserahkan ke Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) untuk dikelola dengan kerjasama.

Upaya itu sempat terkendala, karena pengelola kabur setelah mengambil kayu alam. Kesepakatannya, pihak ketiga harus membangun kebun sawit untuk masyarakat Bonai. Setelah berbagai usaha, pada 2006 KTNA kemudian menjalin kerjasama pula dengan salah satu korporasi sawit di Bonai.

“Dari pada tidak dapat sama sekali, biarlah lahan ini dikerjasamakan dengan perusahaan itu,” kata Kafrizal, masih meniru ucapan Syamsibar, kala itu.

Ditengah jalan, ketika sawit sudah masuk usia panen, tantangan lain kembali menghadapi masyarakat Bonai. Pemerintah bilang, kebun mereka tidak boleh ditanam sawit karena dalam kawasan hutan dan bergambut.

Syamsibar marah besar pada pemerintah. “Allah menciptakan bumi Bonai ini sudah begini adanya.Tidak ada tanah mineral. Kalau negara ingin Suku Bonai ini mati kelaparan, bunuhlah. Kalau tidak pindahkan kami ke tempat lain,” kenang Kafrizal.

Meski begitu, kerjasama pengelolaan kebun sawit terus berjalan. Sejak 2015, masyarakat Bonai terima Rp 30o ribu tiap bulan dengan sekedar menunggu hasil.

Tidak melulu soal perekonomian. Syamsibar juga berupaya membangkitkan marwah adat Suku Bonai. Beranjak dari kegundahan itu, dia memboyong tokoh adat dan anak kemenakan Bonai menemui Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Datuk Seri Al Azhar.

Kafrizal, saksi perjuangan sejak 2016, itu mengatakan mereka nekat meminjam kendaraan dengan mengantongi uang Rp 200.000. Separohnya untuk mengisi bensin dan sisanya untuk konsumsi selama perjalanan.

“Kalau bahasa Bonai, kakok botih tak bobotih, kakok longan tak bolongan,” ungkap Kafrizal, Jumat 18 Februari 2022.

Usaha itu tidak semudah yang dibayangkan. Di perjalanan, mobil yang dikendarai Syamsibar dan rombongan kehabisan minyak. Dia terpaksa menjual telepon selulernya seharga Rp 150 ribu. Mereka lanjutkan perjalanan dengan memutar arah karena jalur utama yang hendak dilalui tergenang banjir.

Di Pasir Pengaraian, Rokan Hulu, rombongan bertemu seorang anggota dewan. Mereka sampaikan tujuan ke Pekanbaru. Anggota dewan itu pun menambah bekal Rp 500 ribu.

Langkah kanan. Tiba di Pekanbaru, Syamsibar dan rombongan akhirnya bersua dengan Al-Azhar. Persamuhan itu jadi kesempatan Syamsibar meluapkan segala kegundahannya terhadap anak kemenakan Bonai. Mulai dari pendidikan hingga mata pencarian, diceritakannya dengan tangisan.

“Saya akan datang ke Bonai. Lembaga Adat Bonai akan saya kukuhkan,” ucap Kafrizal, mengulang respon Al Azhar, kala itu.

Selang dua minggu, tepatnya 3 Maret 2016, Al Azhar menepati janjinya. Mengenakan pakaian, bersama rombongan dia mengukuhkan Lembaga Adat Suku Bonai. Hari itu, merupakan kebangkitan masyarakat Bonai. Al Azhar, orang pertama dari ibu kota provinsi yang memijkkan kaki di tanah Bonai. Seluruh anak Bonai bersuka cita.

Setelah hari bersejarah itu pula, anak-anak Bonai dilibatkan dalam berbagai kegiatan seluruh masyarakat adat di Riau. Termasuk ketika membahas peralihan pengelolaan minyak dari PT Chevron Pasifik Indonesia ke Pertamina, yang sejak awal tidak pernah diperhatikan.

Syamsibar, belum sempat melihat dan menjamin anak kemenakan Bonai benar-benar setara dengan masyarakat luar dalam menikmati kekayaan alamnya. Pada 5 Februari 2021, yang maha kuasa memanggilnya setelah melawan sesak nafas. Seminggu sebelum wafat, dia masih ikut rapat pembahasan peralihan pengelolaan minyak dari asing ke negara sendiri.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *